Catatan Selepas Hujan
  • Perjalanan
  • Cerpen
  • Prosa/Puisi
  • Journal
  • Books and Movies
  • Ruang Makna

                                              

Pict from pinterest https://pin.it/lbuJuqkp9

                                                    



Pagi itu seperti biasa, si kembar Hanin dan Hanum terbangun lebih pagi dari kakak-kakaknya. Balita berusia 17 bulan ini kemudian menangis dan minta digendong. Masing-masing papa dan mama menggendong satu-satu. Lanjut kakak kedua—Hannan yang bangun setelah berulang kali dibangunkan sang mama, bangun dan bergelayut manja di tubuh mamanya yang masih menggendong Hanin. Jangan ditanya si kecil Hanif yang kini usianya 3,5 tahun, anak yang terhitung paling manja. Begitu bangun, menangis dan memanggil papa, minta digendong ke lantai satu.


Yang pagi ini sedikit berbeda adalah Hanna, anak perempuan pertama yang kini kelas 1 SD. Biasanya Hanna terbangun setelah beberapa kali dibangunkan, tapi kemudian tanpa suara akan berjalan ke kamar mandi—mengambil handuk sendiri. Namun, pagi ini entah apa yang membuatnya terlihat tidak kalah manja dari yang lain. Dia terbangun—memanggil mama berulang kali, kemudian menangis. Beberapa kali papanya yang sambil menyetrika seragam menjelaskan, “Mama lagi di atas urusin adik, Hanna bangun dan mandi sekarang. Papa mau pergi kerja lebih awal—kalau kamu telat, nanti nggak papa antar, lho.” Kurang lebih beberapa kali kalimat itu diulangnya, tapi tidak menghentikan tangis dan panggilan Hanna pada mamanya. Baru kemudian ketika mamanya menjawab sambil turun tangga, Hanna lebih tenang dan akhirnya menyerah, bangkit dari tidur dan menuju kamar mandi.


Pertanyaan kecil itu tiba-tiba menelisik di hatiku. Bagaimana bangun pagiku saat kecil dulu, apakah aku seperti kelima keponakanku ini, selalu mencari mama—papa ketika bangun. Lantas bagaimana waktu itu? Bagaimana aku terbangun di usia 3,5 tahun pada subuh di mana ibuku meninggal dunia. Berapa lama waktu yang aku habiskan berhari-hari terbangun dan mencari mama sampai akhirnya aku menyerah sebab beliau tak pernah lagi ada. Siapa yang menjelaskan padaku bahwa aku tak perlu lagi memanggil dan memilukan hati semua orang.


Bagaimana bangun pagiku di usia 7 saat ayah pamit untuk pergi ke lain kota. Bagaimana aku berdamai dengan kepergiannya. Bagaimana aku akhirnya menyadari bahwa aku hanya perlu bangun tanpa suara panggilan apa pun, bangun—menarik sarung atau handuk lalu bergegas ke kamar mandi. Bagaimana aku menjelaskan pada diriku dan akhirnya menerima bahwa ada rindu yang tak kan lagi pernah berujung temu.


Apakah gadis kecil itu menyadari sebuah kehilangan di usianya yang masih sangat dini. Atau merasakan sepi dan sedih, namun tak pernah tahu memaknai seluruh perasaan sendiri itu. Apakah ia berdamai dengan semua kehilangan—atau membiarkan semua tenggelam sebab seluruh tanya tak pernah menemukan jawaban. Atau dia tidak menyadari semuanya, membiarkan waktu berjalan dan menganggap hidup memang seperti ini.


Sampai hari ini, aku masih sering dipeluk sepi yang tiba-tiba. Rasa takut kehilangan yang begitu besar, atau justru rasa ingin memiliki yang dipeluk banyak ketakutan. Seperti aku ingin memeluk dengan erat apa yang aku inginkan hingga ia tak pernah menyisakan rasa hilang itu lagi. Atau justru membiarkan kesendirian berkawan nyaman bersamaku hingga aku tak perlu khawatir siapa pun pergi. Seolah aku sadar bahwa cepat atau lambat, sesayang apa pun pada akhirnya akan pergi juga.


Catatan Lama

Pangkep  | 5 Mei 2025


Ayah suka 10 Dzulhijjah, entah karena tugasnya menyembelih kurban atau justru karena kepala kambing yang selalu dibawa pulang. Entahlah, aku tidak banyak tahu tentang itu. Seperti tulisan ini yang sebenarnya ingin kutulis lebih romantis. Ayah dan warna favoritnya, ayah dan langit yang paling disukainya. Tapi aku hanya anak perempuan yang gagal mengetahui hal-hal kecil tentangmu. Bukankah kita pernah lama asing lalu kemudian bertemu kembali.


Aku tidak tahu kapan pertama kali kau jatuh cinta. Apa yang meyakinkanmu memilih untuk menikah. Dan apa yang paling kau cintai dari ibu. Aku tidak tahu apa yang pernah mengganggu tidurmu, apakah berpisah denganku dulu pernah begitu kau sesali, atau bagaimana bahagianya saat kuputuskan tinggal denganmu beberapa tahun yang lalu.


Ternyata banyak cinta yang besar di dunia ini yang tumbuh tanpa banyak kata-kata, tanpa banyak bicara, tanpa banyak komunikasi. Dia tumbuh perlahan dalam diam dengan penuh kesungguhan.


Someone said, sebenarnya orang-orang yang kita cintai itu tidak pernah benar-benar pergi. Mereka masih hidup dalam diri kita, lewat doa-doa yang pernah memudahkan langkah kita. Lewat kata-kata yang akhirnya menguatkan kita. Dan lewat banyak cinta yang menemani kita tumbuh dan menjadi hari ini.


Tapi aku bingung, setiap kali aku mengingatmu. Bisa jadi karena aku sedih tapi aku tak punya banyak hal untuk diingat sebab kenangan kita memang tak banyak. Aku tak ingat pernah ada pelukan, tak pernah saling rangkul. Atau mungkin aku hanya lupa, sebab aku masih terlalu kecil saat kita masih hangat-hangatnya.


Tapi nyatanya sedikit kenangan itu tetap meyakinkan aku bahwa kau yang paling cinta aku di dunia. Lewat salahku yang kau terima, lewat marahmu yang tak pernah tertuju padaku, lewat lisan yang lain tentang bagaimana kau bangga padaku.


Hari ini kunyalakan lilin kecil dalam hati untuk mengingatmu.


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

ABOUT ME

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Perihal Pagi dan Mereka yang Telah Pergi
  • Funiculi Funicula “Before The Coffee Gets Cold”
  • Journal Diri 1
  • Funiculi Funicula “Kisah-Kisah yang Baru Terungkap”
  • Ayah dan Hari Favoritnya
  • Manusia dan Badainya
  • Sebelum Hari Ibu Berakhir
  • Le Petit Prince (Buku Terjemahan)
  • Freedom Writers (2007)
  • Proses Pembentukan Hujan, Luka dan Airmata

Tayangan Halaman

Categories

  • Books and Movies 11
  • Cerpen 6
  • Journal 17
  • KATA KATA 2
  • Kisah Para Nabi 4
  • Mentalhealt 7
  • Perjalanan 2
  • Prosa/Puisi 18
  • ROMANCE 1
  • Ruang Makna 9
  • Sudut Pandang 2

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

  • Agustus 2026 (2)
  • April 2026 (1)
  • Mei 2025 (1)
  • Februari 2025 (1)
  • Desember 2024 (3)
  • November 2024 (2)
  • Oktober 2024 (1)
  • September 2024 (11)
  • Agustus 2024 (14)
  • Juni 2024 (1)
  • November 2021 (1)
  • April 2020 (7)

Label

  • Books and Movies
  • Cerpen
  • Journal
  • KATA KATA
  • Kisah Para Nabi
  • Mentalhealt
  • Perjalanan
  • Prosa/Puisi
  • ROMANCE
  • Ruang Makna
  • Sudut Pandang

Laporkan Penyalahgunaan

Cerpen

Perihal Pagi dan Mereka yang Telah Pergi

                                               Pict from pinterest  https://pin.it/lbuJuqkp9                                                ...


Copyright © Catatan Selepas Hujan. Designed by OddThemes