dia mengambil duniaku dari baris-baris sajak
yang terbiasa menceritakan duka,
dari kalimat-kalimat yang pernah hidup dari air mata,
dari semua perasaan bersalah yang mampir di setiap jeda.
ia menarik seluruh aku dari sembarang luka.
dengan lengannya yang lapang terbuka,
ia menerima semua bentuk manis dan marahku.
sepasang tangan yang siap menggenggam seluruh aku,
dengan lembut dan penuh kasih.
pada telapak tangannya yang dingin,
patah-patah digoresnya takdir yang baru.
belajar melepas segala yang terukir dini,
menukar semua dengan penuh berani—
untuk bahagia yang selalu kita pinta.
tertatih aku belajar memahami:
aman untukku yang kucari,
tenang yang sekarang kuyakini.
mungkinkah kali ini kan selalu,
atau sekali lagi mengangkatku tinggi
tuk kemudian terjatuh?
pelan aku mengeja,
menyusun ragu yang masih berkeras.
pelan kutaruh satu percaya—
bahwa doaku yang penuh sungguh
tentu kan tiba tepat waktu.
bahwa tenang tak selalu tentang sunyi.
barangkali ia berbentuk tawa
yang pecah di udara,
atau tawa yang riang
bersandar pada bahunya
yang memelukku dengan sayang
Pluvilyu | Balikpapan, 21 April 2026

0 komentar