Catatan Selepas Hujan
  • Perjalanan
  • Cerpen
  • Prosa/Puisi
  • Journal
  • Books and Movies
  • Ruang Makna




Mah, bagaimana kabarmu di alam itu? Sudah sangat lama ya. Kalau aku serindu ini, mama pasti lebih besar lagi rindunya.

Mah, apa yang engkau lakukan untuk mengisi waktu tunggu disana? Semoga malaikat-malaikat menemanimu merajut kain hangat untuk di selendangkan di bahu, atau sekedar menemanimu berbincang sambil minum teh.

Apakah ayah sudah sampai? Aku lupa bertanya pada Tuhan panjang jarak yang harus di tempuh ayah untuk bertemu engkau. Atau jangan-jangan kalian justru sudah bersama sekarang. Berbincang tentang banyak hal. Terutama perihal waktu yang kalian lalui tanpa masing-masing satu sama lain.

Sambil minum teh dan kopi, cobalah untuk mulai kalian bahas tentang rumah kita di surga nanti. Aku minta rumah yang luas sebab keluarga kita akan banyak sekali, dengan sebuah taman dan pohon rindang, ada air mengalir di tepi taman yang gemericik nya serupa suara tasbih. Seperti biasa, aku ingin kamar dengan jendela yang menatap ke langit. Sebab disini aku sudah terbiasa bercerita dengan bintang-bintang setiap kali rindu dengan apapun, aku khawatir kalau-kalau disurga bintang-bintang masih menunggu cerita-ceritaku.

Mah, ada satu lagu berjudul ibu yang bertahun-tahun lamanya selalu mengingatkanku padamu. Nyaris seluruh alunan musik dan syairnya begitu indah untuk seorang ibu. Kalau saja aku ini seorang guru kanak-kanak, mungkin lagu itu akan aku jadikan lagu wajib untuk dinyanyikan semua anak di dunia ini untuk ibunya. Walau sejujurnya, lagu itu membuat rinduku kian kesakitan sebab lagu itu terlalu indah namun menyakitkan karena kau tak ada.

Semoga panjang waktu kita di surga nanti, sebab di dunia yang sekali ini aku hanya bersamamu tiga tahun, dan nyaris tak ada gambar dimana kita berdua. Disini aku sedang memintal kain sutra putih, kelak akan aku bawa sebagai hijabmu, aku sering memintakan maafmu pada Tuhan, sebab tak sempat mengenakannya di dunia. Terbatas ilmu waktu itu, begitulah zaman - mereka punya sifatnya masing-masing. Aku berdoa semoga zaman tidak pernah mengambil iman di dadaku sampai aku pulang nanti, sebab itu satu-satunya pakaian yang bila tak ada maka aku bukan menggigil namun terbakar bara, sungguh aku tak ingin.

Mah, masih banyak yang harus aku selesaikan disini. Meski aku tak cukup tau berapa lama waktu yang aku punya. Kadang aku melakukan yang terbaik, tapi seringkali aku terbuai lalai. Tuhan baik sekali, selalu mengajakku pulang bila tersesat, mungkin doa-doamu dan ayah yang selalu meminta baikku, yang membuat kompasku masih terus menyala. Kata mereka, hal paling berharga didunia ini adalah orang tua yang soleh - solehah, indah sekali kalimat itu - apalagi aku pernah merasakannya. Aku sedang berupaya, semoga kelak aku bisa menjadi seperti itu. Jadi seorang ibu yang solehah dan qurrota a’yun bagi keluarganya. Doakan aku bertemu pria seperti ayah, yang sederhana tapi dekat dengan Al Qur’an. Yang bisa mengajakku ke surga, meski banyak salah yang mungkin akan kami lakukan bersama, tapi akan saling memperbaiki satu sama lain, sebab tujuannya tidak pernah berubah, surga Allah.

Mah, sudah dulu ya, sudah dekat pukul 00.00 hari ibu akan habis, meski cintaku padamu takkan pernah habis. Doakan aku selalu, akupun begitu. Jangan terlalu khawatir, aku baik - kuat - dan bahagia disini sebab Allah selalu baik padaku, Allah mengurusku dengan sangat baik. Sampai jumpa, nanti disurga. 





Aku senang menemukan diriku kembali aktif dan produktif. Aku juga senang ketika diriku sesaat menarik diri dari kerumunan dan diam disudut kamar tanpa bising apapun.

Aku senang mendapati diriku menarik diri dari peredaran untuk mengisi kembali energi. Pun aku senang ketika aku kembali mencoba berbagai hal sederhana yang mungkin tak seberapa tapi itu membahagiakanku.

Aku menyukai setiap fase itu, sebab darisana aku memahami bahwa aku mengenali diriku cukup baik, tahu apa yang aku mau dan aku butuhkan.

Diantara fase-fase itu, aku juga sering diserang rasa khawatir. Takut pada sesuatu yang semu dan tak nyata. Berusaha menemukan seseorang yang mengenalku dengan cukup baik, melalui obrolan panjang untuk mencari pertolongan. 

Dan yang selalu, adalah ;  percakapan-percakapan penuh airmata dengan Tuhan tentang seluruh kelemahanku. 

Aku tau bahwa diriku tak harus selalu diterima. Mungkin sesekali orang terdekatpun gagal memahami inginku. Dan setiap orang memang tidak harus selalu berbaik sangka padaku. Aku belajar menerima semua itu.

Perjalanan mengenali diri - menerima diri - dan memanusiakan diri, mungkin memang tidak akan pernah selesai. Kita dipenuhi pikiran dan prasangka. Kita diserang takut dan kekhawatiran. Kita tenggelam dalam kesedihan. 

Tapi sungguh itu tak apa. 

Seperti bayi yang harus melalui fase merangkaknya terlebih dahulu. Baru kemudian berjalan perlahan, dan berani berlari. Ternyata kita kerap kali mengulang-ulang fase itu dalam jiwa kita. 

Balikpapan, 1 Desember 2024


“MANUSIA”  Mereka menjejalkan diri ke dalam kereta api kilat, tetapi lupa apa yang mereka cari. Maka itu mereka pontang panting dan hilir mudik.




Ada cinta dalam buku ini. Ketika setangkai mawar bertindak bodoh demi menarik hati sang pangeran cilik. Pangeran menyadari bahwa itu berlebihan, tapi lucunya - dia terlanjur jatuh cinta. Pangeran cilik pergi meninggalkan setangkai mawar itu di planetnya, namun hatinya terlanjur jatuh pada sang mawar. Meski ada ratusan mawar lain dalam perjalanannya, itu tidak akan berarti apa-apa. Ia hanya merindukan satu-satunya mawar dalam planetnya.


Perjalanan pangeran cilik dari planet ke planet memberi banyak pemaknaan terhadap karakter manusia. Ia bertemu dengan seorang raja yang ingin selalu di patuhi. Bertemu dengan seseorang yang sombong. Si pemabuk yang minum karena malu, malu karena mabuk. Pengusaha yang sibuk yang menjual bintang untuk kemudian memiliki bintang lagi. Hidupnya habis untuk menghitung bintang. 

Aku suka buku ini, ia menyadarkan betapa manusia itu rumit, tapi sering tak memahami untuk apa semua kerumitan itu membelenggunya, sehingga lupa apa itu hidup.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

ABOUT ME

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Pulang ke dalam Diri
  • Teruslah Bodoh Jangan Pintar
  • Ayah dan Hari Favoritnya
  • Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia
  • IBRAHIM Manusia Paling Mesra dengan Tuhannya
  • Mengenang
  • Biarkan Begini
  • Novel “Sendiri” karya Tere Liye
  • Obrigada
  • Dibawah Catatan Takdir

Tayangan Halaman

Categories

  • Books and Movies 11
  • Cerpen 6
  • Journal 16
  • KATA KATA 1
  • Kisah Para Nabi 4
  • Mentalhealt 7
  • Perjalanan 1
  • Prosa/Puisi 17
  • Ruang Makna 9
  • Sudut Pandang 2

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

  • Mei 2025 (1)
  • Februari 2025 (1)
  • Desember 2024 (3)
  • November 2024 (2)
  • Oktober 2024 (1)
  • September 2024 (11)
  • Agustus 2024 (14)
  • Juni 2024 (1)
  • November 2021 (1)
  • April 2020 (7)

Label

  • Books and Movies
  • Cerpen
  • Journal
  • KATA KATA
  • Kisah Para Nabi
  • Mentalhealt
  • Perjalanan
  • Prosa/Puisi
  • Ruang Makna
  • Sudut Pandang

Laporkan Penyalahgunaan

Cerpen

Proses Pembentukan Hujan, Luka dan Airmata

Evaporasi Segala yang berawal dari hal-hal kecil yang berhasil menyentuh inti hatimu. Seperti matahari yang memanaskan airlaut, beberapa ...


Copyright © Catatan Selepas Hujan. Designed by OddThemes